Pahlawan di bumi

Ibu rupanya pahlawan itu tidak ada.  Kamen Rider bertarung sendiri, Ultraman merusak rumah warga, dan Power Rangers main keroyokan. Hatiku ternyata tidak sebahagia seperti terlihat di kaca. 

Iklan

Seorang manusia dengan kasih sayang mengejewantah di seluruh tubuhnya

Suatu hari,  seorang manusia terlahir dengan kasih sayang mengejewantah di seluruh tubuhnya. Kasih sayang meluber-luber di sepanjang langkah, di kedua tangannya dan di wajahnya. Ia senang membelai kucing-kucing di jalanan,  mengobati yang pincang di antaranya dan membagi sisa makanan. Saat ia membelai kucing,  ia menerima belaian pula.  Ia pun mencintai setiap kucing yang ia temui. 

Ia membelai bunga-bunga dan semua tanaman yang ditemuinya. Ia menyiangi dan memupukinya penuh kasih sayang.  Kendati demikian,  kasih sayang dalam dirinya terus meluber dan tak habis habis. Ia menulis puisi, membantu orang orang jompo, dan mendengarkan keluhan serta cerita berbagai orang dari berbagai tempat.  Ia mencurahkan kasih sayang karena hanya itu yang ia miliki. 
Tetapi di bumi ini tidak hanya hal baik saja terjadi.  Sekelompok orang mulai curiga bahwa manusia penuh kasih sayang itu sebetulnya munafik.  Mereka ingin membuktikan bahwa manusia penuh kasih sayang itu akan surut rasa kasihnya ketika mereka menyakitinya. 

Mereka pun mulai menyambit manusia penuh kasih sayang itu dengan batu, meludahinya,  dan melontarkan hinaan serta ejekan yang seharusnya bisa menyakitinya.  Manusia penuh kasih sayang itu tetap tersenyum dan mereka semakin muak.  Pasti ada satu hal yang dibenci manusia penuh kasih sayang itu.  Mereka mencari tahu sambil terus berusaha menyibak tirai yang ada pada jiwa manusia penuh kasih sayang itu. Mereka ingin melihat manusia penuh kasih sayang itu menampilkan ekspresi lain selain kasih sayang. 
Mereka ingin melihat manusia penuh kasih sayang itu menangis,  marah,  kecewa,  dan habis kasih sayang dalam dirinya. 
Maka mereka tak pernah berhenti menyakiti manusia penuh kasih sayang itu dan mencoba segala cara hingga akhirnya kasih sayang dalam diri manusia penuh kasih sayang itu mengering dan habis.  Ia kini menjadi manusia paling hitam di bumi. 
Manusia optimis datang menasehati manusia hitam penuh benci yang dulunya merupakan manusia penuh kasih sayang itu. Tetapi manusia optimis hanya memiliki ide-ide dan rasa buru-buru.  Ia tidak memiliki perasaan yang sama dengan manusia yang penuh kasih sayang yang kini telah menjadi manusia hitam penuh benci. 

Hingga datanglah manusia waktu.  Dalam jeda yang panjang ia mengamati dan duduk di samping manusia hitam penuh benci yang dulunya manusia penuh kasih sayang itu.  Ia duduk lama tanpa membicarakan apa-apa.  Sekalipun ditinggalkan,  ia akan kembali mengambik tempat di sisi manusia penuh kasih sayang itu dan hanya berdiam untuk waktu yang lama sampai manusia hitam penuh benci itu surut rasa bencinya dan mengering. Tiba tiba manusia hitam penuh benci itu mulai kosong dan tak memiliki apa apa dalam dirinya. 
Kini giliran manusia waktu kembali menceritakan kenangan manusia penuh kasih sayang dengan kucing kucing jalanan,  dengan tanaman dan bunga bunga milik tetangga,  dengan orang orang jompo dan siapa siapa yang pernah tersenyum ketika manusia penuh kasih sayang membantunya. 
Manusia penuh kasih sayang pun tersenyum dan kembali menjadi dirinya sendiri. 

Tanpamu jalanan sunyi terdengar sampai ke sini

Tanpamu jalanan sunyi terdengar sampai sini. Suara desau angin, deru kereta di desa seberang, sirine ambulan lewat di jalan raya, dan cahaya bulan jauh di langit sana, semua terdengar merayapi tembok dan memanjati kaki bak semut semut kelaparan yang menggigiti. 

Tanpamu, suara orang tertawa di rumah lain terasa kecut bagiku. Lagu lagu riang serasa harapan hampa yang duduk di atas sofa dan tak melakukan apa apa kecuali hanya menyaksikan kesepian muntah muntah di lantai sampai belepotan. Muntahan liur yang bercampur air mata.

Tanpamu, aku bagai tak ada warna dan semu. Tanpamu, aku bagai tak memiliki kehidupan ini. Tak memiliki tawa, tak memiliki gairah dan tak memiliki diri sendiri sampai ragu hendak berbuat apa.

Aku ingin menunjukkan ini agar kau bisa tertawa bersamaku

Aku ingin kau melihat ini dan tertawa bersamaku. Aku ingin kau melihat itu dan setuju dengan pendapatku. Aku ingin kau mendengar, aku ingin kau menyimak, aku ingin kau peduli, pada apa yang kupedulikan. Tertawa pada lelucon yang kutunjukkan, merasakan iba yang sama seperti yang kurasakan saat kubagi lihat sebuah berita, dan tersambung dalam satu kabel yang mengaliri listrik, mengaliri hidupku yang jemu. 

Aku ingin menunjukkan hal aneh dan membuatmu terpukau. Aku ingin menunjukkan hal lucu dan membuatmu tertawa. Aku ingin membagi apa apa yang kumiliki dan kuketahui denganmu. Aku ingin kau berada di jalur yang sama denganku dan kita bisa berjalan beriringan. 
Sebab apa artinya tawa bila ketika kumenoleh tak ada siapa siapa dan seluruh dunia sedang dalam situasi berbeda dengan perasaanku. Apa artinya lelucon, apa artinya berita unik, bila hal itu kunikmati sendirian, dalam kesepian. Apa artinya semua hal yang membuatku tertawa bila tak ada orang yang peduli apakah aku senang atau bersedih. Apa artinya semua hal yang kuketahui bila seseorang yang ingin kuberitahu hanyalah kamu. Apa artinya keberadaanku tanpamu?

Rumah Lego

Aku mencoba memperbaikinya berkali-kali, rumah lego yang bentuknya tidak sesuai dengan keinginanku. Kulepas satu keping demi satu keping.  Pintu depan dan jendelanya. Atap genting serta tembok-temboknya.  Warna biru seharusnya lebih indah ketimbang merah.  Tetapi kepingan ini semuanya merah, dan putih, dan hijau. 

Aku tidak sesuai dengan warna-warna ini.  Aku harus mencopot bagian belakang dan membuangnya.  Dinding ruang tengah harus kubongkar juga agar lebih lega. Semua kepingan ini harus kupreteli dan kupasang kembali.  Kuterapkan lagi satu keping demi satu keping.  Kali ini pasti bentuknya jadi lebih baik. Dengan penuh kesabaran aku menata bentuk lego-lego ini agar tak salah. 
Kupasang lantainya agar sempurna. Kurekatkan halaman depan dengan pagar dan tanaman.  Bentuknya lebih bagus sekarang.  Tetapi tetap saja dalam hatiku terasa ada yang kurang.  Kucopot lagi dan kupasang lagi.  Kulihat lagi dan kubongkar lagi sebelum kurangkai kembali.  Begitu terus dan berkali-kali.  Kubongkar dan kupasang sampai puas hati. Sampai aku lelah dan marah sendiri karena tak mampu memberi bentuk sempurna seperti dalam pikiranku. 
Apakah rumah lego ini salah dan harus kuperbaiki? 
Atau justru akulah satu-satunya hal yang harus diperbaiki? 

Pria yang menatap bayangan kakinya sendiri

Sudah dua belas menit ia menatap bayangan kakinya sendiri.  Di sana,  di trotoar tempat ia berdiri.  Ia tidak melangkah maupun bergerak sama sekali. Hanya menatap bayangan kaki beku pada aspal hitam yang memanjang di hadapannya. Cahaya bulan bulat dan terang menerangi jalanan. Sepotong ranting ikut bergerak karena angin, dedaunannya melambai dalam bayangan di tanah. Sunyi. Tanpa suara desir sama sekalim

Ia tak tahu sejak kapan ia melangkah dan sudah sejauh mana ia menggerakkan kaki. Ia terus memerhatikan langkahnya sendiri di antara aspal retak kekeringan dan genangan air hujan pada lubang jalanan. Tali sepatu ini lebih berguna ketimbang dirinya. Tali sepatu ini,  benda ini tahu untuk apa ia terlahir ke dunia,  menjadi simpul bagi lubang-lubang tali pembentuk simpul dan mengepaskan ukuran kaki. 

Angin,  daun kering yang jatuh,  dan rembulan mungkin lebih tahu mengapa ia tercipta. Burung-burung memiliki langit dengan bentangan sayapnya, binatang malam melata memiliki bumi. Sementara pria itu masih menyeret kakinya dan mempertanyakan bayangan yang melangkah mendahuluinya. 

 

Seseorang yang bisa kuajak mengobrol apa saja sebelum tidur

Betul menurut seorang psikolog bahwa,  jika kau sedang berada di depan televisi dan sedang merasa kesepian, maka kau akan mulai berbicara kepada dirimu sendiri. 

Hari ini,  semua acara tidak seru dan punggungku terasa pegal. Sepertinya aku masuk angin.  Perutku terasa mual meski aku sudah meminum dua sachet obat masuk angin. Aku sudah bergulak-gulik di atas tempat tidur selama beberapa menit dan mencoba berganti posisi berkali-kali namun mataku tak mau memejam. Aku kira bantalku yang salah.  Aku kira diriku yang salah. 
Suara televisi asyik sendiri berpendar di tembok.  Pikiranku melayang ke mana-mana. Langi-langit kamar,  gorden di jendela,  dan pintu yang sepi. Aku tahu lamat-lamat kerisauan yang sejak tadi berdiri di depan pintu dan tidak kubiarkan masuk itu,  akan segera merayap ke tembok atau langit-langit, lalu mulai memanjat tempat tidur untuk menjangkauku hingga genap menjadi rasa sedih yang gelisah. 

Ia tahu betul di jam-jam seperti ini tak akan ada seorang pun yang bisa menolongku dari diriku sendiri. Aku tak bisa lari atau membangunkan seseorang untuk menemani. Aku sendiri. Dan kerisauan itu adalah bagian diriku yang lain yang selama ini bersembunyi. Entah di kepala,  entah di dahi atau telinga. Entah di laci atau menyelip di antara lipatan pakaian di lemari. 

Sejak dulu,  sejak dulu sekali aku berdoa agar Tuhan mengirimkan seseorang yang bisa kuajak mengobrol apa saja sebelum tidur. Sebelum memejam dan kemudian mendapat mimpi buruk. Sebelum tidur dan kemudian tak bangun lagi. Sebelum menghadapi esok yang entah cerah atau justru penuh noktah. 

Seseorang yang bisa kuajak mengobrol apa saja sebelum aku atau dia terlelap karena kelelahan dan meninggalkan sepi yang indah.