Seseorang yang bisa kuajak mengobrol apa saja sebelum tidur

Betul menurut seorang psikolog bahwa,  jika kau sedang berada di depan televisi dan sedang merasa kesepian, maka kau akan mulai berbicara kepada dirimu sendiri. 

Hari ini,  semua acara tidak seru dan punggungku terasa pegal. Sepertinya aku masuk angin.  Perutku terasa mual meski aku sudah meminum dua sachet obat masuk angin. Aku sudah bergulak-gulik di atas tempat tidur selama beberapa menit dan mencoba berganti posisi berkali-kali namun mataku tak mau memejam. Aku kira bantalku yang salah.  Aku kira diriku yang salah. 
Suara televisi asyik sendiri berpendar di tembok.  Pikiranku melayang ke mana-mana. Langi-langit kamar,  gorden di jendela,  dan pintu yang sepi. Aku tahu lamat-lamat kerisauan yang sejak tadi berdiri di depan pintu dan tidak kubiarkan masuk itu,  akan segera merayap ke tembok atau langit-langit, lalu mulai memanjat tempat tidur untuk menjangkauku hingga genap menjadi rasa sedih yang gelisah. 

Ia tahu betul di jam-jam seperti ini tak akan ada seorang pun yang bisa menolongku dari diriku sendiri. Aku tak bisa lari atau membangunkan seseorang untuk menemani. Aku sendiri. Dan kerisauan itu adalah bagian diriku yang lain yang selama ini bersembunyi. Entah di kepala,  entah di dahi atau telinga. Entah di laci atau menyelip di antara lipatan pakaian di lemari. 

Sejak dulu,  sejak dulu sekali aku berdoa agar Tuhan mengirimkan seseorang yang bisa kuajak mengobrol apa saja sebelum tidur. Sebelum memejam dan kemudian mendapat mimpi buruk. Sebelum tidur dan kemudian tak bangun lagi. Sebelum menghadapi esok yang entah cerah atau justru penuh noktah. 

Seseorang yang bisa kuajak mengobrol apa saja sebelum aku atau dia terlelap karena kelelahan dan meninggalkan sepi yang indah. 

Dua batang rokok menyala di bawah gelap malam

Setiap pulang tadarusan aku selalu melewati pematang sawah yang lumayan panjang menuju rumah. Letak masjid di kampung ini lumayan jauh dari permukiman sehingga siapa saja yang ingin pergi atau kembali dari sana harus berjalan melewati pesawahan yang penuh juga dengan ilalang rimbun di sisi kiri-kanannya.
Saat berjalan-jalan menyusuri pesawahan itu,  aku kerap melihat dua nyala di dalam gelap di antara semak-semak.  Nyala seperti dua batang rokok yang diangkat ke angkasa oleh dua buah tangan.  Aku selalu bertanya-tanya siapa pemilik nyala dua batang rokok itu.   Apakah mereka dua sahabat yang sedang bercengkerama atau justru sepasang kekasih yang menyisi dari hiruk-pikuk dunia. 
Pikiran itu selalu melintas sembarang setiap kali aku melewati pesawahan dengan menyisir rimbun ilalang di kiri-kanan jalan. Beberapa lahan kering belum sempat ditanami padi dan ilalang-ilalang tumbuh subur di sana tanpa dibersihkan. 
Kadang-kadang ada perasaan untuk sengaja lewat ke arah dua nyala itu untuk melihat seperti apa pemilik dua nyala batang rokok yang menganggu pikiranku itu.  Namun pada langkah kesekian aku selalu urung.  Kupikir itu bukanlah urusanku sama sekali lagipula aku tidak tahu apa yang akan kukatakan bila aku sudah melihat wajah mereka. 

Kendati demikian aku selalu dan selalu menemukan nyala rokok itu sedang mengambang di udara di bawah gelap malam ketika aku melintasi pematang untuk pulang. Kubayangkan dua orang itu tengah berbaring santai sambil menatap langit berbintang. Dan kepulan asap terus mengalun dari sepasang lengan yang akrab. Kupikir ikatan macam apa yang telah menyatukan dua manusia itu. 
Mereka bisa berada di sana berdua berlama-lama hanya dengan dua batang rokok dan kepulan asap. Tak terdengar suara obrolan maupun canda tawa.  Hanya nyala saja dalam gulita yang sunyi ditingkahi beberapa kerik hewan malam di sekitar rerumputan. 

Alangkah indahnya sebuah ikatan, pikirku. Bisa menyatukan manusia dalam kesederhanaan.  Dan setiap kali melintasi pesawahan tersebut aku merasa iri pada keakraban mereka.  Pada dua batang rokok yang menyala itu,  tanpa pernah tahu siapa pemiliknya. 

Dua Titik Merah

Laki-laki yang tengah duduk di bangku taman rumah sakit dengan wajah menunduk itu bernama Benny. Dia berambut gondrong-semrawut-tak terurus bak surai singa. Badannya ceking dan kering bagai ranting pohon kapas yang telah gugur seluruh daunnya dan tinggal kulit sekayu tipis kecoklatan. Pakaian yang dikenakannya pun lusuh dan  penuh  debu di sana-sini karena terlalu sering berguling di halaman rumah sakit apabila ia sedang kumat. Tetapi sebagai pasien rumah sakit jiwa Benny memiliki keistimewaan, yakni ia pandai melukis. Apa saja bisa dilukisnya menjadi gambar- gambar absurd nan indah. Aku sering melihat hasil goresan tangannya dan berdecak kagum saat merasakan polesan kuasnya seperti menarik dan menyeret-nyeret jiwaku ke dalam labirin sepi yang berkelok-kelok tanpa ujung. Aku gelisah dan tak betah, namun tetap penasaran dengan alasan di balik semua hal ini. Seperti juga hidup, kadang ada hal-hal yang tidak ingin kita lalui namun tetap kita jalani hanya untuk tahu alasan di sebaliknya.

Benny bisa menyulap bunga mawar menjadi lukisan romantis khas Dali dengan menjungkir-balikan realitas dan mimpi, logika dan imajinasi. Ia juga kerap menyalin karya-karya Van Gogh lengkap dengan skala kolmogrovnya dan memberikan sentuhan pribadi ke dalam lukisan tersebut sehingga agak sulit untuk dikenali sebagai hasil plagiasi karya seniman ternama.

Salah satu lukisannya bergambar langit cerah terbelah dengan wajah perempuan menyembul di antara awan- awan yang berarak tipis dan indah. Wajah perempuan yang sama juga keluar di tengah kelopak sekuntum mawar yang tengah mekar. Aku merasakan kesegaran tetumbuhan seperti menghirup bau tanah sehabis hujan. Kerinduan pada hal-hal yang lembut nan indah.

Aku yakin perempuan mana ‘pun akan jatuh cinta pada lukisan-lukisannya yang khas dan memberikan sensasi tersendiri saat melihatnya. Tetapi bagaimana pun dia adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa yang menderita skizofrenia akut. Dia pernah bilang kepadaku mengenai wajah kekasihnya yang membentang di awang-awang serupa layar terkembang di tengah samudera, kemudian ia merasa dirinya tenggelam ke dasar lautan yang dalam lagi gelap. Aku tidak tahu apakah ia terisak karena kenangan masa lalu atau karena kehabisan udara di paru- parunya akibat halusinasi yang ia alami. 

Aku, dibantu dua orang perawat, menyuntikkan lorzepam kepadanya dan memberinya sugesti bahwa kekasihnya telah selamat dari maut (sebab kita tidak boleh mencederai perasaan pasien). Ia harus menghirup napas seperti biasa. Ia bisa menghirup napas seperti biasa. Lamat-lamat ia mulai tenang. Ia menekan dadanya dan melepaskan embusan napasnya ke udara seperti melepas merpati dari dalam kandang yang penuh sesak. Ia bebas dan ketika ia berlalu, ia tampak seperti seorang waras yang baru saja terbangun dari mimpi buruk. Ia melenggang dengan tenang.

Aku kembali pada lembaran gambar hasil lukisannya. Tanganku terhenti pada lukisan yang belum jadi. Tak ada gambar apapun di sana kecuali dua titik merah yang ia buat dengan cara mengarsir bulat-bulat, lingkaran yang semakin lama semakin menjadi dua ranah berwarna merah pekat. Entah mengapa aku merasa kenal dengan dua buah titik merah itu. Aku tidak tahu apakah aku pernah melihatnya sebelumnya atau memang dua titik merah ini juga merupakan plagiasi dari pelukis ternama. Aku sama sekali tidak tahu.

Salah satu masalah saat menangani pasien-pasien rumah sakit jiwa adalah informasi yang diberikan pasien selalu acak, tidak sesuai kronologis, bahkan kadang tidak masuk akal. Cerita-cerita mereka kadang memuat simbol-simbol yang merujuk pada sesuatu yang terjadi di masa lalu. Beban kehilangan, amarah yang tersimpan begitu dalam, ketidakadilan, dendam sampai luka-luka yang melebihi kemampuan nalar untuk mencerna. Untuk itu aku harus menjadi kawan baik mereka, harus ikut merasakan apa yang sebenarnya terjadi, harus memposisikan diri sebagai pasien.

Sebenarnya Benny gampang diajak komunikasi jika suasana hatinya sedang baik. Dia bisa berbicara dengan nada sareh, dan jelas. Dan aku dapat dengan mudah mengorek informasi seputar kenangan masa lalunya. Tapi manakala ia kumat, ia akan menjelma binatang buas yang menyerang siapa saja. Dua orang perawat kami pernah digigit telinganya hingga berdarah ketika hendak menyuntikkan penenang kepadanya. 

“Untuk apa punya telinga jika tak mau mendengarkan alasan,” begitu teriaknya kepada dua perawat yang hampir putus daun telinganya.  Aku bisa melihat darah menetes dari  bagian belakang telinga Ardi dan Sujat. Mereka memeganginya sambil meringis kesakitan. 

Tetapi kemudian aku bias meringkusnya setelah meminta bantuan kepada enam orang perawat yang lebih gesit dan kuat menahan hentakan dan benturan demi benturan dari tubuh Benny. Segera kusuntikkan lorzepam begitu lehernya tertahan. Ia berangsur-angsur tenang dan bias dikendalikan.

Benny sudah dirawat sejak setahun yang lalu, tak ada yang tahu di mana sanak-saudaranya. Dia dibawa oleh seorang donatur kami yang menemukannya tengah melukis di tepi laut Jakabaring. Donatur kami bilang, Benny seorang seniman sejati.  Sambil menunjukan salah satu hasil goresan Benny, donatur kami bilang,

“Chiaroscuro, daerah pertentangan antara cahaya dan kegelapan. Dia mahir sekali menggunakan teknik arsiran ini,”
Aku mengamati arsiran gelap terang tersebut, begitu luwes sekaligus tegas dalam menggambarkan intensitas cahaya di dalam sebuah ruangan. Arsiran tersebut juga menambah tajam ekspresi tokoh-tokoh yang digambarnya.

Donatur kami yang respek dan menyukai lukisan-lukisan Benny berharap agar kami merawatnya dan menyembuhkannya seperti sedia kala. Siapa tahu Benny bisa menjadi pelukis terkenal, ujar donatur kami. 

Suatu hari Benny menyembul dari sudut korido seperti anak kecil yang kebelet pipis dan ingin meminta mamanya mengantar. 

Dia berlari ke arahku dengan ekspersi tak keruan, lagi-lagi menurutku seperti sedang menahan antara takut ke kamar mandi karena hantu dan kebelet pipis. Aku menunggunya benar-benar mendekat dan berusaha menyiapkan sesuatu apabila ia lepas kendali dan melukaiku. Benny terdiam ketika sampai di hadapanku. Benar-benar diam bagai mobil yang sejak awal tidak dinyalakan mesinnya. Beberapa detik kemudian ia melangkah sangat pelan, seperti langkah penari yang teratur atau diatur seseorang.
Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Perempuan itu, perempuan itu datang lagi … ” bisiknya pelan. Aku merasa bisikannya dingin meluncur ke dada seperti balok es yang menyelinap ke dalam kemeja. Terasa ke tulang-tulang bahkan hingga ototku ikut kaku.

Aku bingung dan tidak mengerti ucapannya. Namun ia kembali berlari ke sisi lain saat aku hendak bertanya. Aku kaget karena suara lain yang berulang-ulang mulai mengusik. Ternyata ponselku berdering. Istriku menelpon, ia memintaku membelikan beberapa kaleng corned beef. 

Ia hendak memasak masakan istimewa untuk acara arisan mingguan. Aku mengiyakan dan ia terdengar lega. Ia menutup telepon tanpa pesan lain lagi. Entah mengapa di titik itu aku merasa sedih dan sepi. Koridor rumah sakit itu terasa lega dan menjauh dari pandanganku seperti sebuah kamera dalam film yang menimbulkan perasaan sunyi.

Aku kembali ke arah Benny yang tengah duduk di bangku taman rumah sakit sambil sesekali mengamati langit seolah tengah menghitung bintang meski hari masih terang benderang. Dengan tekun ia menggoreskan warna demi warna ke kanvasnya. Aku tersenyum dan melangkah ke arahnya. Ia masih asyik menggerakan tangannya dengan khusyuk saat aku mendekat. Kujengukan kepalaku untuk melihat apa yang tengah ia gambar. Sebuah perahu dengan seorang laki-laki duduk menyendiri di atasnya dan sebuah layar terkembang bergambar wajah perempuan. Anehnya, kali ini aku melihat dua titik merah. Satu di dahi laki-laki yang duduk menyendiri satu di dahi layar yang bergambar wajah perempuan. Dua titik merah yang beberapa hari lalu kulihat pada sebuah kanvas kosong. Dari dua titik merah itu mulai merembes pelan-pelan cairan berwarna merah. Semakin lama semakin banyak dan deras. Aku menyadari warna merah itu seperti darah. Dan tanpa sadar aku berteriak : darah! Darah!

Sesuatu di dada dan kepalaku membludak hendak meledak. Perasaan itu dating lagi. Rasa gelisah dan tak betah. Bedanya kali ini aku tak ingin tahu alas an. Aku hanya ingin marah dan memberontak.  Aku berteriak-teriak ketakutan tanpa bisa kumengerti sebab-musababnya. Orang-orang mulai mendekat, perawat dan dokter lain memegangiku kuat-kuat. Beberapa bahkan dengan kasar menekuk lenganku agar tidak memberontak. Mendadak kanvas itu lenyap entah ke mana dan Benny tidak ada di tempatnya. Aku masih berteriak-teriak merasakan sensasi rasa sedih dan marah yang meluap-luap. 

“Dia kumat lagi, beri dia penenang … ” 
Mereka menggiringku ke sebuah ruangan sementara aku masih meronta-ronta menghamburkan segala kekesalan dan kepedihan di dada. Mereka membaringkanku dan mengikatku pada ranjang sedang aku masih tak bisa mengendalikan emosiku yang bergelombang hebat di kepala dan di dada. Aku merasa marah sekaligus sedih pada semua orang. Aku memberontak dan memaki-maki siapa saja. Aku meminta para perawat melepaskanku namun mereka tidak memedulikannya. Salah seorang dokter menyuntikkan sesuatu ke lenganku dan ototku berangsur-angsur lemah. Aku merasa dadaku yang menggelinjang tadi mulai pasrah. 
“Dokter … ” Terdengar isakan seorang perawat. 
“Dia bukan lagi rekan kita. Sekarang dia pasien kita, dan kita harus tega demi kesembuhannya.” 
“Ia membawa serta kepribadian istri dan seniman gila itu ke dalam dirinya, ke dalam rasa kesal dan kekalahannya.” Ujar dokter lain. 
Beberapa perawat terdengar terisak. Suasana sedih mengerubung di awang-awang serupa asap dupa di atas tanah pekuburan. Aku lengser sejenak dan tenang. Tetapi percakapan itu seolah membuka jendela kenangan di mana istriku telanjang dengan seorang seniman yang berpura-pura gila. Seniman yang mengajak istriku kencan berkali-kali dan bercinta di kamar tempat aku dan istriku memadu kasih setelah kuijinkan ia tinggal di rumahku dan kuanggap sebagai adikku sendiri. Suara desing peluru melubangi dahi mereka berdua. Aku kembali berteriak-teriak, tidak terima. Merasakan sedih, kecewa, dan kesal yang luar biasa. Amarah serupa tombak mengarah ke mana saja, melesat di udara. 
“Tambah dosis penenangnya. Cepat!” 

Di dadaku burung-burung gagak menggelepar penuh airmata. Sementara bayangan perempuan itu dibawa lari seorang lelaki dengan menaiki perahu, aku meronta-ronta sendiri dalam sedih dan sepi yang tak mampu kumengerti.

***
Catatan mengenai cerpen ini :

*Pernah terbit ganda di dua media yang berbeda karena kesalahan saya. 

**Pernah memenangkan sebuah event kecil berhadiah buku. 

Menggugat banjir Nuh

Pak Nusa menemukan beberapa artikel penelitian anaknya di dalam sebuah map berwarna biru. Ia menyibaknya satu persatu dan membacanya dengan teliti. Ia mulai khawatir ketika berbagai dalil agama dikupas anaknya satu persatu lewat pemetaan logika.
Menggugat Banjir Nuh.
Banjir Nuh lokal atau global?
Jantung Pak Nusa berdegup kencang ketika deretan huruf tersebut mengulik mengenai kisah-kisah banjir dari berbagai mitologi. Anaknya menyebrang ke ranah bebas. Bahkan Dior mengulas mengenai Ein sof, Yahweh dan kepercayaan Yahudi. Ia benar-benar tak menyangka bahwa perdebatan-perdebatan mengenai agama di ruang keluarganya belum cukup untuk menegaskan kepada anaknya, betapa seorang muslim harus lurus kepada Al-Qur’an dan Hadist.
“Apa ini?” Pak Nusa melemparkan map tersebut ke ats meja.
Dior mengernyit sedikit. Ia tak serius menanggapi, matanya melirik ke arah televisi.
“Memangnya kenapa, Pak?”
“Kamu tahu aqidahmu bisa terpengaruh. Apalagi kamu sampai mengulik begitu jauh, sampai pendapat-pendapat kaum realis kau cantumkan. Bapak membebaskanmu ke ranah filsafat, tapi tidak untuk menggugat dalil-dalil Tuhan.”
“Aku tetap shalat, Pak. Ini agar kita membuka mata bahwa dalam dalil-dalil ada begitu banyak hal yang belum dijelaskan dan makalah saya ini berusaha melengkapinya.”
Pak Nusa memungut map tersebut, kemudian menyibak beberapa lembar kertas di sana.
“Bagaimana dengan ini?” Pak Nusa membeberkan hasil ketikan anaknya tepat ke wajah Dior.
“Dari judulnya saja, kamu ingin menegaskan bahwa Banjir Nuh bukan banjir global seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an bisa kau jelaskan hal tersebut.”
“Bisa, Pak. Bagaimana mungkin kapal sebesar 300 hasta* bisa memuat segala spesies masing-masing tujuh jenis dari yang tidak haram?”
“Kamu keterlaluan. Bapak sudah sering memergoki kamu tidak shalat. Kamu anggap apa agama itu?”
“Ini menjadi tanggungjawab saya dengan Tuhan, Pak.”
“Ini tanggung jawab bapak sebagai orangtua kamu!”
Napas Pak Nusa memburu udara. Ruangan tersebut mendadak panas seketika. Seolah dinding-dindingnya terbuat dari seng yang tersinari radiasi gama.
“Mulai besok kamu tidak usah kuliah lagi, bapak akan masukan kamu ke pesantren.”
“Aku mau ke luar sebentar, Pak.” Dior mengeloyong, menuju ke pintu.
“Dior! Bapak belum selesai bicara.”
Dior tetap bergeming. Pak Nusa hanya melemparkan hasil ketikan anaknya tersebut ke udara hingga tercecer ke segala sudut ruangan.

***

Dior menatap langit-langit kamar Rudi. Matanya menerawang jauh ke masa-masa bahagianya dulu saat keluarganya masih lengkap. Mendadak gelombang air menggulung-gulung dalam pikirannya, menghantam rumah dan menghanyutkan ibu serta kedua adiknya.
“Hoy, ngopi dulu. Melamun melulu.”
Dior bangun kemudian menyesap kopi yang disajikan Rudi. Jakunnya naik-turun berirama dengan tegukan kopi. Rudi hanya menghela napas panjang menatap sahabatnya itu.
“Gue mau tanya, tapi lu gak boleh tersinggung.”
“Tanya apa?”
“Benar ya, lu gak akan tersinggung?”
“Iya, iya. Tanya aja.”
Rudi menyiapkan napas dan dadanya. Ia menyelidik wajah Dior yang menunggu.
“Sebenarnya hubungan lu sama Tuhan itu kayak gimana?”
Dior terdiam, ia tahu sahabatnya akan menanyakan hal tersebut.
“Maaf nih, bukan maksud berniat mengganggu privasi lo. Yang gue lihat ada luka dalam hubungan lu sama Tuhan.”
“Maaf Rud, gue gak bisa jawab.”
Keduanya saling diam seolah menutup bilik masing-masing. Ada gembok besar melingkar, dan terkatup di antaranya.
Mendadak lampu yang tergantung di langit-langit kamar bergoyang-goyang. Dior mulai merasakan kepalanya begitu berat dan pusing. Keduanya saling tatap.
“Gempa!”
Segera keduanya berlari ke luar ruangan. Kemudian lamat-lamat dari jalanan sekitar terdengar derap langkah orang berlari ramai-ramai.
“Gempaaa … gempaaa … ”
Beberapa suara menyebut nama Tuhan dan beristighfar ketika gulungan air mulai merayap bak kadal mengincar mangsa, menghantam segala di hadapannya. Satu orang terhempas gelombang.
“Dior, cepat.” Keduanya menyusuri lorong sempit yang belum terkena air. Beberapa sepeda motor lewat mengebut. Mobil dan orang-orang berhamburan menjauhi air yang mulai mengejar.

“Sial.” Dior menyerobot masuk ke dalam angkot yang penuh sesak. 
“Kami ikut, Pak.”
“Muatannya sudah penuh, dek.”
Ombak mulai menghantam jalan-jalan, sebuah gardu roboh dan menghantam aspal.
“Cepat!”
“I-iya, iya.”

Mobil tersebut melaju dengan kecepatan penuh, dengan beban yang melebihi kapasitas muatan membuat kekuatan gasnya tak seberapa. 
Air masih mengejar di belakang, menghantam segala rupa, membuat siapa saja yang menatapnya kehilangan harapan hidup.
Air yang bergulung-gulung membentuk ombak yang berlomba-lomba saling tinggi menindih angkot hingga angkot tersebut oleng.
“Subhanallah.”
“Astagfirullahaladzim.”
Angkot oleng, membuat penumpangnya berpencaran. Beberapa bagiannya penyok karena hantaman air. Orang-orang mulai hanyut terseret ombak. Rudi dan Dior terpisah karena derasnya aliran air.
Rudi merayap-rayap mencoba meraih sesuatu agar tidak terseret. Ia mendapatkan sesuatu, namun ketika memegangnya benda tersebut dingin. Ia membalik benda itu. Mayat. Rudi memekik dalam hati, ia segera meraih-raih benda yang lain unuk menyelamatkan diri.
“Dior!” Panggilnya menatap kesunyian di antara derasnya aliran air. Entah sahabatnya itu masih hidup atau tidak. Dalam situasi seperti ini dirinya harus siap kehilangan.
Dior tak kelihatan. Rudi berhasil meraih patahan kayu yang mengambang, namun arus deras terus menyeretnya. Ia tak bisa lagi berpikir jernih. Tubuhnya kuyup, dan tenggorokannya tersedak air. Ia terbatuk keras.
Dior sudah duluan hanyut. Ia timbul-tenggelam di antara sampah-sampah yang terseret. Dan saat sadar, ia mencoba meraih-raih sesuatu. Ia terbatuk keras dan membentur. Ia mendapatkan sebuah sofa mengambang. Ia memanjat dan duduk di atasnya. Hampir terjatuh. Kemudian sempurna duduk di atasnya. Napas disertai batuk membuatnya gelagapan hampir kehilangan nyawa.
Sementara air terus mengalir deras seperti tumpahan kopi menyapu semut-semut. Pikiran Dior kini kacau, sofa yang ia duduki bergoyang-goyang. Ia menatap sekelilingnya penuh air. Beberapa mayat yang larung, dan orang-orang di atas atap yang mulai terendam, celingukan tanpa harapan.
Gelombang menghantam Dior ke sebuah bangunan. Ia masih tersadar kemudian berusaha menaiki puncak bangunan tersebut. Ia menggigil kedinginan, menatap segala benda hanyut terseret ombak. Ia berhasil menepi di atap sebuah bangunan berlantai tiga. Banjir kini sudah terlalu tinggi, entah di mana sahabatnya tadi.
Kejadian semacam ini bukan yang pertamakalinya bagi Dior.
Ia menatap langit yang mulai hitam, dan beberapa wilayah kota yang tersaput air. Orang-orang menyebut nama Tuhan berkali-kali melihat derasnya arus melabrak segala yang ada, dan membawanya hanyut bersama.
Di pikiran Dior sedang bermain bermacam-macam prasangka. Ia menatap langit yang mulai menurunkan hujan deras disertai angin. Hujan mematuk-matuk bumi dengan keras. 
Ada satu kata yang sengaja ia tolak selama ini, kini menyembul pelan-pelan. Mendadak dadanya seolah lepas. Ia menatap gelombang air di bawah sana dan berucap :
“Tuhan … ”
Airmatanya menyembul perlahan.

***
*Hasta ukuran tangan manusia pada jaman tersebut.

**Pernah tayang di Islam Pos,  11 April 2015. (Kupindah kesini karena web Islam Pos yang lama telah dihapus secara permanen dan berganti dengan yang baru) 

Pemuda arogan

Suatu hari pemuda arogan berjalan di trotoar seorang diri. Ia berjalan dengan bahu yang sengaja dilebar lebarkan agar tampak gagah dan menantang. Ia berjalan bak jahoan.  Trotoar itu lumayan sepi karena hari sudah cukup malam dan tirai tirai rumah di permukiman sudah banyak yang menutup rapat.  Beberapa pejalan kaki menatapnya tanpa harapan dan pemuda itu menjadi marah.  Ia memaki maki sepasang kekasih yang menatapnya tanpa henti. Sepasang kekasih itu segera berlari menjauh,  meninggalkan pemuda itu seorang diri. 

Sang pemuda arogan tertawa,  ia merasa menang. 

Tepat ketika kakinya sampai di perempatan,  ia berhenti di sisi jalan dan mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Setelah mengambil sebatang,  ia segera menyulutnya dan mengisapnya perlahan. Ia mengisap dan mengembusnya dengan gaya jagoan.  Ia janji ia akan marah pada siapapun yang menatapnya tepat di mata. 
Ia tidak suka jika ada orang yang menatapnya secara langsung. Entah apa sebabnya. Ia pun terus diam di sisi trotoar seperti sengaja menunggu satu dua pejalan kaki berjalan ke arahnya. 
Malam sudah sangat gelap dan lampu merkuri samar-samar menerpa separuh jalan dalam cahaya remang.  
Lama pemuda itu menanti tapi jalanan sudah sangat sepi.  Tak seorang pun lewat ke sini. Hanya desau angin dan suara binatang malam sesekali bersahutan.  Dua potong dedaunan berlari ke kakinya karena angin.  Pemuda itu menginjaknya lagi dan lagi seperti mengeluarkan kekesalannya yang tak pasti.  Kekesalan pada entah apa. 

Samar-samar pemuda arogan itu berhenti dan mulai menangis seorang sendiri di sana, di jalanan sepi itu.